Everlast: Saya Muslim, Islam Memang Pantas untuk Saya

Everlast yang mempunyai nama asli Eric Francis Schrody ini memutuskan masuk islam pada tahun 1996. Rapper berusia 57 ini merupakan anggota grup House of Pain yang pernah tenar lewat hitsnya Jump Arround. Everlast meraih Grammy Award di tahun 2000 dalam kategori Best Rock Performance by a Duo or Group, ketika itu Everlast bersama Santana lewat hitsnya Put Your Light.

Perkenalan Eric Schrody dengan Islam bermula saat ia menjalin percintaan dengan sang kekasih, asal Los Angeles Divine Styler, raper asal AS, yang ketika itu ternyata sedang mendalami agama ini. Scrhody masih ingat betul, peristiwa itu terjadi pada 1980-an.

Begitu sang kekasih bersyahadat, Schrody masih menanggapinya secara santai dan wajar. Bahkan ia sempat menemani pujaan hatinya itu mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah menyatakan berislam, kekasihnya tersebut memilih tinggal dengan keluarga sang guru, yaitu Abdullah Bashir. Schrody menganggap angin lalu ucapan syahadat yang diikrarkan oleh sang kekasih.

Seiring berjalannya waktu, Schrody seakan terus bersentuhan dengan agama yang dibawa Muhammad SAW itu. Kali ini, Schrody mendengarkan dengan saksama kalimat syahadat dari sahabatnya.

“Saya mendengar kalimat syahadat, lalu saya bertanya, ‘Apa ini? Saya orang kulit putih, dapatkah saya berada disini? Apakah Anda tahu di sini Amerika, Islam hanya untuk orang kulit hitam,” katanya.

Namun, celotehannya tersebut berujung pada jawaban yang justru menambahnya kian yakin, yaitu tak sedikit warga yang berkulit putih telah memeluk Islam di dunia ini.

Rasa penasaran di benak Schrody terhadap Islam semakin menguat. Terlebih begitu mendengar rekaman Warith Deen Muhammad, anak dari pendiri gerakan Nation of Islam, yaitu Elijah Muhammad. Seketika Schrody merasa kepalanya seperti dibom saat mendengar bahwa tuhan yang diyakininya selama ini ternyata adalah manusia.

Rekaman pidato Warith jelas menegaskan bahwa tuhan yang ia yakini selama ini, tak ubahnya seperti dirinya, manusia biasa. Seketika itu juga Schrody berikrar syahadat.

Menurut dia, dengan mengucapkan syahadat, dia telah menerima kebenaran dan bebas melakukan apapun serta tetap aman. Sejak mualaf dosa sebelumnya telah termaafkan dan telah terselamatkan. Namun, saat itu, ia tidak benar-benar mengaku sebagai Muslim. Ia memilih apa yang ingin dipercaya.

Allah pun seperti membiarkan saya. Satu ketika saya berada di satu titik merasa tidak puas secara spiritual padahal telah memiliki segalanya, uang, dan mobil seharga 100 ribu dolar serta wanita yang dapat dengan mudah didapatkan, apa pun yang Anda inginkan bisa Anda dapatkan,” kata dia.

Schrody mulai berpikir, dengan segala yang dimilikinya, dia tetap tidak merasa bahagia. Setelah melakukan intropeksi diri, ternyata pria kelahiran New York 47 tahun lalu ini, menyadari masih menjalani hidupnya dengan tidak benar.

Kemudian ia shalat dan berbicara kepada seseorang bernama Abdullah. Ia pun kembali mengucapkan syahadat dan berniat melakukan yang terbaik dalam beribadah. Ia meneguhkan komitmen berubah. Berhenti memukuli diri sendiri akibat pengaruh alkohol dan tidak menggunjingkan keburukan orang lain.

Sejak saat itu, ia berani mengakui ketika ada orang bertanya padanya bahwa dirinya seorang Muslim. “Saya Muslim, tetapi saya masih penuh dengan dosa dan saya mencoba pelan-pelan menjauhi dosa tersebut,” kata Schrody.

Keputusannya menjadi Muslim bukan datang dari tekanan siapa pun. Menurut Shcrody, Islam memang pantas untuknya. Allah SWT adalah Tuhan alam semesta. Islam merupakan hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya. Sehingga, tidak ada yang bisa menekannya terkait agamanya.

Bahkan saat shalat di masjid, Scrody merasa seperti di rumah dan selalu disambut dengan hangat. Padahal, masjid bukan hanya miliknya. Ketika ia berkunjung ke masjid di beberapa negara pun ia merasa nyaman.

Seperti masjid di New York, masjid di sana besar dan banyak orang yang datang, sehingga tidak ada yang terlalu memerhatikannya. Begitu juga saat ia berkunjung ke Cina, Korea, dan Spanyol.

Meski terkadang saat berada di masjid ia satu-satunya jamaah yang berkulit putih, baginya tak masalah. Semua baik-baik saja. Awalnya, ia sempat berpikir akan ada perlakuan berbeda, apalagi ketika dia shalat Jumat untuk pertama kalinya.

Ia diajak temannya shalat Jumat di Brooklyn, New York. Ia justru merasa gugup ketika berada di lingkungan sekitar, bukan di masjid. Saya merasa senang, saya tidak merasa berbeda dari orang lain ketika di masjid, ujarnya.

Respons keluarga terhadap keputusan Schrody memeluk Islam sungguh di luar dugaan. Meski dibesarkan di lingkungan Katolik, tetapi ibunya ternyata berpikiran sangat terbuka. Ibunya menyambut bahagia karena anaknya memiliki Tuhan dalam hidupnya.

Sang ibu, pernah melihatnya sedang shalat. Ibunya pun sangat bersyukur, terutama kepada Styler yang mengenalkan Islam kepada anaknya tersebut, hingga menjadi orang yang paling dikaguminya. Ibunya merasa berkat temannya itu, Schrody menjadi lebih baik.

Berbeda saat masa anak-anak, mereka berdua terkenal sebagai bocah yang liar. Pergi pesta, bertengkar, dan melakukan apa pun sesuka mereka dengan sikap kasarnya.  Namun, ternyata Islam mengubah Schrody menjadi sosok yang tenang.

Schrody mengatakan, banyak orang menertawakan hal yang sebenarnya mereka tidak mengerti atau jika mereka mengerti, keimanan mereka akan goyah. Masalahnya adalah tidak ada seorang pun yang bisa berpura-pura bahwa mereka sebenarnya tidak memahaminya termasuk dalam agamanya. Namun, ia tidak pernah menemukan hal sederhana kecuali pada Islam.

Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepadanya apa yang dipercaya seorang Muslim? Lalu jawaban tersebut muncul berurutan bukan seperti umat lain yang membangun tembok ketika sedang berdiskusi berbeda agama.

Ketika membaca Alquran ternyata di dalamnya terdapat isi Alkitab dan Taurat, seperti dalam Perjanjian Lama.  Namun, Alquran membuat penegasan dan menyempurnakan kitab-kitab tersebut.

Kemudian pertanyaan lanjutan muncul mengenai kebenaran dalam Alquran tersebut. Ia mencontohkan ketika membaca buku  berjudul Muhammad: The Life of the Prophet yang ditulis seorang non-Muslim, Karen Armstrong.

Dalam buku tersebut umat lain awalnya mencoba mengenalkan Muhammad sebagai orang paling jahat di bumi karena mendirikan Islam dengan pedang. Namun, setelah belajar lebih jauh, Muhammad hanya akan berperang ketika memang Allah mengharuskannya.  Muhammad hanya berjuang untuk membela Islam. Ini buku yang bagus mengisahkan Nabi Muhammad.

“Kami mengatakan Muhammad SAW adalah seorang laki-laki, kami tidak mencoba mengatakan selain ia adalah laki-laki, sebagai Muslim, Rasulullah adalah contoh paling sempurna dari seorang pria yang ada di bumi dan yang terakhir,” katanya. (ez/rol)

Advertisements

Comments Off on Everlast: Saya Muslim, Islam Memang Pantas untuk Saya

Filed under Muallaf Celebritis, Muallaf Mancanegara

Comments are closed.